Development

Development

Literature


Perpustakaan

Alkitab menyatakan "pada mulanya adalah Firman". Firman, kata menjadi unsur fundamental dalam kedirian manusia. Kata berarti bahasa, dan bahasa melahirkan buku. Dalam konteks itu buku adalah bagian integral dari degup kehidupan umat. Bagaimana perhatian gereja terhadap perpustakaan? Apakah perpustakaan telah dilihat sebagai bagian dari upaya gereja untuk mengembangkan wawasan warga jemaat? Secara umum dapat dikatakan gereja/jemaat belum memberi perhatian yang lebih sungguh terhadap pengadaan/pelayanan perpustakaan. Perpustakaan masih dilihat sebagai barang mewah dan tidak dipahami sebagai alat penopang bagi pelayanan gereja.

Dalam era informasi, perpustakaan memegang peranan amat penting dan strategis, yaitu sebagai agen perubahan, agen pembangunan, agen budaya dan pengembangan iptek. Perpustakaan dapat mengubah nilai, mencerahkan, mengajarkan sehingga wawsan seseorang lebih luas dan mendalam. Perpustakaan memiliki nilai-nilai yang positif dalam kehidupan umat jika dikelola dengan baik dan profesional. Beberapa nilai perpustakaan adalah: nilai pendidikan, nilai informasi, nilai ekonomi, nilai sejarah dan dokumentasi, nilai demokrasi dan keadilan, nilai perubahan, nilai hiburan atau rekreasi, nilai sosial dan budaya.

 

Minat Baca

Mereka yang memanfaatkan perpustakaan akan mendapatkan nilai-nilai tersebut bagi kehidupanannya. Perpustakaan memiliki makna penting bagi masyarakat, bahkan dapat membantu dalam pelaksanaan pelayanan jemaat. Maka kehadiran perpustakaan dalam kehidupan gereja/jemaat sangat dibutuhkan.

Kondisi minat baca bangsa Indonesia yang sangat rendah dibanding bangsa-bangsa lain, memerlukan perhatian dari semua pihak, gereja GKY Pluit pada khususnya. Jangan biarkan jemaat hanya terbiasa mendengar sesuatu dengan pendengaran, mereka harus membaca buku, membaca hal-hal yang sudah teruji kebenarannya, sehingga mereka mampu dan terbiasa berkata benar dan mempercayai yang benar. Mereka suka menuturkan cerita yang benar.   

Semoga dengan terus dikembangkannya Perpustakaan Gereja, jemaat semakin pintar, tidak percaya kabar burung, dan dalam kehidupannya mampu mencerminkan sikap-sikap yang benar: sopan, mencintai kebenaran, tidak suka bertengkar atau menyebabkan orang lain bertengkar karena kabar yang tidak benar.

 

SEJARAH PERPUSTAKAAN GKY PLUIT

1978 – 1979

Perpustakaan mulai dirintis oleh Komisi Remaja, yang ada saat itu dibina oleh GI Hosea Ming dan perpustakaan yang ada juga sangat sederhana, belum ada suatu ruangan khusus, belum ada pengurus resmi. Yang ada hanya sekelompok remaja yang setiap minggunya, sehabis persekutuan remaja, mengeluarkan buku-buku dan memajangnya di atas kursi panjang yang disusun sedemikian rupa menyerupai meja.  Saat itu gereja kita masih di Apotik Telaga Sari.

Karena tidak memiliki pengurus yang tetap, maka perpustakaan ini pernah mengalami masa vacuum selama beberapa tahun.

 

1983

Dibawah bimbingan GI Max, perpustakaan kembali dijalankan.  Saat itu, GI Max sendiri ang turun tangan dalam pembelian/penyediaan kaset-kaset kotbah untuk perpustakaan. Sedangkan buku-buku, diperoleh dari ex perpustakaan Komisi Remaja (Telaga Sari).  Kali ini perpustakaan mempunyai ruang kecil, di bawah tangga (saat ini telah menjadi ruang Kepala Rumah Tangga). Dan juga memiliki petugas yang tetap yaitu Acun, Phang Yen dan Han Wie.

Dibawah bimbingan GI Lena, perpustakaan semakin dikembangkan, buku-buku baru bertambah dan untuk pertama kalinya perpustakaan mulai dibawa ke pusat (GKJMB Ry I). Dan pada saat itu juga sistem peminjaman mulai dikembangkan.  Telah ada Buku Besar yang digunakan untuk pencatatan setiap peminjaman buku.

1990

Sekembalinya Pdt David Tjioe dari studinya di Amerika, beliau menyumbangkan lemari bukunya untuk perpustakaan.  Karena ruangan tidak mencukupi, maka perpustakaan dipindahkan ke ruangan yang lebih besar di salah satu kelas Sekolah Minggu (sebelah ruang Tata Usaha sekarang ???) . Saat itu kepengurusan sudah mulai ada, dan penghubung ke BPR saat itu adalah Bapak Sukiato. Sedangkan petugas perpustakaan juga mulai bertambah.  Pencatatan peminjaman b uku saat itu dengan menggunakan sistem kartu.

 

 

1994

Perpustakaan kembali dipindahkan ke ruangan sebelah toilet dengan pertimbangan lokasi yang lebih strategis sehingga akan lebih mudah dicapai oleh jemaat.  Pencatatan peminjaman kembali mengalami perubahan dari sistem kartu menjadi sistem Buku Besar.

Sejak Ibu Pdt David Tjioe diangkat jadi Pembina, perpustakan semakin berkembang, semakin banyak acara yang diadakan untuk meningkatkan minat baca jemaat, antara lain:

  1. Aku Gemar Membaca (AGM)
  2. Bazar penjualan buku bacaan
  3. Quiz Alkitab
  4. Perkenalan Perpustakaan kepada anak Sekolah Minggu 

 

1998

Pada 1998, Perpustakaan mengalami kebanjiran. Kondisi Perpustakaan juga dinilai sudah terlalu kecil dan sudah tidak mencukupi kebutuhan jemaat, sehingga perlu kembali di renovasi dan diperluas selama 3 bulan dan pindah ke lantai 2. Perpustakaan kembali dibuka dan diresmikan pada tanggal 26 Juli 1998 oleh Pdt David Tjioe.

2012

Berhubung kurang minatnya Jemaat naik ke atas untuk peminjaman buku, maka Perpustakaan direlokasikan lagi ke bawah pada Desember 2012.

Namun belum 1 bulan kemudian, banjir besar melanda di seluruh Jakarta dan ini mengakibatkan Perpustakaan Pluit terendam banjir yang sangat parah dan buku Perpustakaan tinggal 4.000an buku dari 10.000an buku.

Equipping The Congregation Sub. Department


 

text