The Golden Rule

September 26,2021 / Tim Beranda

Ayat: Matius 7:12-14

Hukum yang terutama ini sudah ada sejak Perjanjian Lama (Imamat 19 perintah untuk hidup kudus, berlaku baik terhadap orang asing yang tinggal di tengah-tengah Israel, sama seperti mereka adalah orang asing di Mesir). Kalau kita berharap orang sabar/murah hati terhadap kita, bukankah kita juga harus sabar/murah hati terhadap orang itu? Itu terjadi dalam Perjanjian Lama, dan Tuhan ulangi dalam Perjanjian Baru (ayat 12b itulah inti seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi). Mengapa perintah ini harus diulang? Supaya orang-orang belajar dari sejarah. Karena orang-orang Israel yang merasa spesial karena merupakan bangsa yang dipilih Tuhan, telah gagal melakukan hal ini. Kita pun, yang merasa sbg orang pilihan, jangan-jangan sama dengan orang Israel. Pengajaran ortodoks tanpa belas kasihan adalah sesuatu yang buruk. Penganut ajaran ortodoks menjauhkan diri dari orang lain karena menganggap diri dan ajarannya paling benar. Sebuah research sosial di Amerika mengatakan orang-orang ortodoks selalu adalah orang yang berkubu dan rasis. Manifestasi yang keliru (1Korintus 13:3 = seolah-olah mengasihi tetapi sebetulnya tidak). Hal-hal yang disebutkan (membagi-bagi2 harta bahkan membakar diri) lebih besar daripada hanya berlaku sabar (1Korintus 13:4). Tapi semua itu bisa saja tanpa kasih, dan jadi sia-sia. Jadi kasih yang dituntut Tuhan bukan kasih yang besar, tapi kasih yang benar!

Hukum yang Tuhan bilang ini terlihat mudah sebenarnya, tetapi permasalahannya kebutuhan setiap orang berbeda. Mungkin hanya pemikiran kita, tetapi yang diharapkan orang lain beda (seperti orang yang sakit ada yang ingin dijenguk, tetapi ada yang tidak mau). Kita juga bisa mengasihi Tuhan dengan konsep yang keliru (dalam Yes, Tuhan berkata bukan persembahan korban yang Tuhan inginkan).

Abraham Maslow: level kebutuhan manusia (mulai dari bawah piramid):

  1. Kebutuhan fisiologis: makan, istirahat, minum, nutrisi
  2. Rasa aman, keselamatan, dan stabilitas
  3. Kebutuhan sosial: dikasihi dan diterima
  4. Keberhargaan: pencapaian, pengakuan
  5. Aktualisasi diri

Apa yang kita pikir baik untuk orang lain ternyata tidak sama dengan kebutuhan mereka. Jika kita tidak mengenal orang yang kita perlakukan baik, malah bisa menjadi sebaliknya.

Ayat 12-13 banyak yang melewati jalan yang lebar:

1) Mengganti golden rule dengan kegiatan agamawi yang spiritnya salah. Orang Yahudi menjaga hukum Taurat dengan cara mereka bahkan mengajak orang kafir mengikuti hukum Taurat, tapi bukan ini yang Tuhan mau. Tuhan lebih mau mereka berlaku baik terhadap orang kafir.

2) Menghindar dari yang unfamiliar (Mat 7:21-23). Contoh: Yunus yang familiar memberitakan firman Tuhan terhadap bangsanya, tetapi tidak mau pergi kepada orang Niniwe. Disiplin rohani: bukan hanya berdoa, saat teduh atau membaca Alkitab, tetapi juga membuka diri mereka terhadap latihan rohani yang baru (contoh: Tuhan Yesus menantang orang Yahudi mengasihi orang lain yang berbeda dengan mereka). Bukan artinya berdoa membaca Alkitab tidak penting, semuanya tetap penting, namun maksudnya jangan sampai kita mengabaikan yang unfamiliar buat kita. Bahkan tanpa sadar kita menutupi kelemahan kita dengan kegiatan agamawi kita. Dalam psikologi ada exposure therapy, misalnya orang yang takut ketinggian justru dibawa ke tempat yang tinggi. Exposure = membuka diri. Sebagai orang kristen kita membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman dan pembelajaran-pembelajaran baru, empati, sabar, belajar berkomunikasi dengan orang yang hidupnya berbeda dengan kita.

Dalam perikop sebelumnya Tuhan Yesus bilang orang dunia saja tahu memberikan yang dianggapnya baik untuk orang lain, apalagi Tuhan sendiri, akan memberikan yang terbaik berdasarkan pengenalan Tuhan kepada kita. Oleh karena itu, golden rule ini bukan hanya slogan rohani: aku baik kamu harus baik, aku sabar kepada kamu, kamu juga harus sabar terhadap aku. Tidak sesimple itu. Kita harus mengenal sesama kita terlebih dahulu: mengerti pergumulannya, kebutuhannya. Mungkin ini sesuatu yang unfamiliar buat kita. Kita semua mau dimengerti, dan kita tidak mau orang yang setengah-setengah mengerti kita datang mengetok pintu-pintu kita. Tapi membuka diri bukan hal yang mudah (illustrasi: pembicara pernah minder karena masalah keuangan membuat dia tidak bisa melanjuntukan sekolah, saat dia cerita ke 1-2 orang gereja dan sampai ke hamba Tuhan, hamba Tuhan itu datang tetapi malah menasehati kedua orang tuanya, hal ini sangat membekas bagi pembicara. Tetapi sebaliknya, teman baiknya menceritakan ke ibunya masalah pembicara ini dan si ibu ini membantu membayarkan tunggakannya dan adiknya dan memperbolehkan adiknya sekolah di tempatnya, si pembicara boleh bekerja di tempat ibu itu untuk membayar bantuannya). Golden rule itu menjadi golden exerience. Melakukan (bukan sekedar menjaga!) tradisi. The golden rule adalah jantung dari iman kita: tradisi paling utama yang harus kita hidupi dari para rasul yang mewarisinya dari Yesus. Karena jika kita menjaga tradisi tanpa melakukan golden rule ini, apakah kita pantas disebut sebagai murid Tuhan?