Renungan Paskah melalui kata "Paskah"

Renungan Paskah melalui kata “Paskah”

oleh GI. Abadi

 

Apakah makna Paskah bagi setiap kita yang terhimpun di dalam bilangan umat Allah yang diselamatkan karena karya agung Sang Anak Domba Allah, Tuhan Yesus? Di dalam terbitan Beranda ini, saya mengajak kita semua untuk menyelami kesengsaraan dan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib melalui sebuah studi kata “Paskah”.  Apakah makna Paskah bagi kita?

 

Sebagian besar dari kita sudah terbiasa mendengar bahwa kata “Paskah” yang berasal dari bahasa Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggrisnya sebagai “Passover”, yang berarti “pass over” (“melewati”). Pemakaian kata “Passover” sebagai ganti “Paskah” didasarkan di dalam sebuah narasi ketika Tuhan Allah, Yahweh, menghukum orang-orang Mesir dengan membunuh setiap anak sulung mereka, tetapi Dia “melewati” (pass over) setiap anak sulung dari keluarga Israel jika darah anak domba dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah mereka (Kel. 12, perhatikan secara khusus ayat-ayat  Kel. 12: 12-13 dan 12:23). Jikalau kita mempelajari kedua bagian ayat ini (ayat-ayat 12-13 dan ayat 23) dengan seksama, maka kita dapat merasakan sedikit kejanggalan karena sebenarnya yang “melewati” rumah orang-orang Israel yang telah diperciki darah anak domba di atas pintu rumah mereka bukan Tuhan Allah (Yahweh) tetapi “pemusnah” (destroyer) yang diutus oleh Tuhan Allah. Tuhan Allah memang “menjalani” (pass through) tanah Mesir untuk memberikan penghukuman, tetapi ada satu kata kerja di ayat 23 yang diterjemahkan kurang tepat, yaitu kata “melewati” (“TUHAN akan melewati (pass over) pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi”).

 

Seorang pakar biblika yang bernama Meredith G. Kline di dalam artikel yang dipublikasikan di Journal of the Evangelical Theological Society (37.4) terbitan Desember 1994 memberikan argumentasi bahwa perayaan Paskah lebih tepat disebut sebagai The Feast of Cover-over dari pada The Feast of Pass-over. Dasar argumentasinya adalah bahwa akar kata kerja dari kata “paskah” adalah pasakh yang memiliki dua akar kata, yang pertama berarti “limp” (“berjalan sempoyongan, berjalan dengan tidak stabil”) dan yang kedua berarti “cover, hover” (“menaungi, melingkupi, atau melayang-layang”). Sebagai bukti dari arti yang kedua, menurut Kline, ada di dalam Yesaya 31:5, dimana kata pasakh dipergunakan seperti seekor burung yang terbang melayang, menaungi, melingkupi dan melindungi:

           

Seperti burung yang berkepak-kepak melindungi sarangnya,

demikianlah TUHAN semesta alam akan melindungi Yerusalem,

ya, melindungi dan menyelamatkannya,

memeliharanya (pasakh atau “menaungi”) dan menjauhkan celaka.

(Beberapa alkitab terjemahan bahasa Inggris masih menggunakan kata “pass over” atau “melewati”)

 

(Pertanyaan refleksi: Menurut anda, bagian firman manakah yang mempergunakan metafora ini bahwa Allah di-identifikasi-kan sebagai Roh yang melayang-layang menaungi dan melindungi?)

 

Kembali kepada narasi di Keluaran 12, jika pengertian kata pasakh ini sekarang kita mengerti sebagai “terbang melayang menaungi” (cover overhover over) dan bukan sebagai “melewati” atau “melalui” (pass over), maka kita dapat membaca ayat Keluaran 12:23 sebagai berikut:

 

            Dan TUHAN akan menjalani (“pass through”) Mesir untuk menulahinya;

apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu,

maka TUHAN akan melewati (pasakh, lebih tepat kata “menaungi”, “cover- over”) pintu itu

dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi.

 

Jadi kebenarannya adalah TUHAN akan pasakh  “menaungi, melindungi” pintu itu agar pemusnah tidak masuk ke dalam rumah.

 

Apakah implikasi kebenaran firman Tuhan ini bagi kita yang percaya kepada Tuhan Yesus?

 

Para penulis Perjanjian Baru menghubungkan narasi dan kejadian di Keluaran 12 dengan kisah penyaliban Tuhan Yesus Kristus. Penyaliban Tuhan Yesus bertepatan dengan peringatan hari Paskah. Injil-injil Sinoptis (Matius, Markus, dan Lukas) menyatakan bahwa Perjamuan terakhir (the Last Supper) Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya adalah perjamuan Paskah (Mat. 26:17; Mrk 14:12; Luk 22:7-8). Injil Yohanes menunjukkan kepada kita bahwa kematian Tuhan Yesus merupakan pengorbanan Paskah karena tidak ada tulang-tulang-Nya yang dipatahkan (Yoh. 19:36, bdk. Kel. 12:46). Rasul Paulus di dalam 1 Kor. 5:7 menuliskan “ … Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.”

 

Kisah yang agung, mulia, dan penuh dengan kasih-karunia di dalam kejadian “Paskah” sebagaimana dicatat di dalam Keluaran 12 merujuk kepada satu realitas di dalam Perjanjian Baru yang digenapi di dalam diri Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah, yaitu Anak Domba Paskah yang tidak bercacat dan tidak bercela.

 

Tuhan Allah menaungi dan melindungi kita dari kuasa maut dan kuasa si jahat oleh karena darah Anak Domba Allah yang tercurah bagi kita. Si Jahat dapat berjalan mengancam kita, tetapi kabar baiknya adalah kita -- oleh karena darah Anak Domba Allah -- senantiasa dilindungi, dinaungi, dan dilingkupi oleh Tuhan Allah sendiri. Haleluya!

 

O … Alangkah mulianya Sang Anak Domba Allah!!!

 

Selamat Paskah.

July 23,2017 / GI. Abadi