Aku Datang untuk Menggenapkan Hukum Taurat

April 25,2021 / Tim Beranda

Ayat: Matius 5:17-19

 

Orang Israel pada Perjanjian Lama mendapat Hukum Taurat setelah keluar dari Tanah Mesir. Ketaatan kepada hukum taurat, bukan untuk menerima keselamatan tetapi untuk menjalani relasinya dengan Yahweh dan sesama. Karena Hukum Taurat diberikan ketika bangsa Israel keluar dari Tanah Mesir, setelah diselamatkan. Mereka diharapkan untuk mentaati Hukum Taurat. Orang Israel tidak bisa berkata bahwa mereka akan loyal kepada Yahweh, tapi tidak mau peduli terhadap Hukum Taurat. Ketaatan Hukum Taurat bukan beban, tetapi panggilan bangsa Israel. 

Pada Mazmur 119, pemazmur mengungkapkan kecintaannya terhadap Hukum Taurat. Hukum Taurat dilihat sebagai sesuatu yang baik bagi orang Israel. Namun bagaimana dengan Yesus yang adalah orang Israel juga? Pada Matius 5 ayat 17, Yesus tidak berbicara hanya tentang Hukum Taurat, tetapi kitab para nabi. Yesus tidak berkata bahwa Ia ingin mengganti Kitab Taurat dengan versi-Nya, tetapi Ia tetap menjunjung tinggi Perjanjian Lama. 

Yesus memulai dengan kata “jangan kamu menyangka” (ayat 17). Yesus tahu bahwa ada kesalahpahaman, dimana Kerajaan Allah yang Ia beritakan kelihatannya bertentangan dengan Hukum Taurat. Contohnya, Yesus seperti melanggar hari Sabat, karena Ia mengizinkan murid-muridnya memetik saat hari Sabat atau membuat mujizat pada hari Sabat. 

Sebelum Ia berbicara tentang ajaran-Nya, yaitu Khotbah di Bukit, Ia ingin memperjelas bahwa ajaran-Nya tidak menyingkirkan ajaran Kitab Suci, tetapi Yesus datang untuk menggenapinya. Apa maksud “menggenapi”? Menggenapi tidak sama dengan menaati, tetapi lebih daripada itu. Menggenapi berarti Yesus Kristus adalah figur sentral yang diajarkan dalam Kitab Suci. 

Hukum Taurat yang kita baca di Perjanjian Lama tidak bisa dilepas dari kisah Yesus Kristus. Ketika kita melepasnya, kita tetap harus melakukan Perjanjian Lama untuk selama-lamanya. Misalnya, di Perjanjian Lama kita tidak boleh makan makanan tertentu. Maka hari ini, kita tidak boleh makan makanan tersebut, jika kita melepas Hukum Taurat dari Yesus Kristus. Mengapa saat ini kita tidak wajib melakukan beberapa hukum-hukum tertentu? Karena hukum-hukum tertentu  tersebut tidak mengikat kita, tetapi merujuk kepada Yesus Kristus yang melakukan penggenapan klimaksnya. Maka daripada itu, kehadiran Tuhan Yesus bukan berarti menghancurkan Hukum Taurat, tetapi penggenapan kitab para Nabi. Dengan demikian, kehadiran Yesus Kristus adalah penafsir taurat yang benar, karena Ia mengerti secara benar Hukum Taurat. 

Pada Matius 5, Tuhan Yesus mengutip 1 hukum, yaitu hukum kasih. Secara sekilas, yang dimaksud oleh Tuhan Yesus berbeda dengan Hukum yang ada di kitab para nabi. Tetapi sesungguhnya, Yesus Kristus mengerti hukum secara benar. Selama berada di dunia, Tuhan Yesus bukan melawan Hukum Taurat, tetapi melawan pemahaman ahli Farisi yang salah tentang hukum Taurat.

Kemudian, di ayat 18, Yesus menegaskan kembali validitas dari Kitab Suci. Yesus menggunakan kata “1 iota atau 1 titik”. 1 iota adalah huruf yang paling kecil dan 1 titik berbicara tentang 1 tanda tertentu yang kecil ketika seseorang akan menulis. Dari kata tersebut, kita mengerti bahwa seluruh Hukum Taurat memiliki validitas, sekecil apapun signifikansi ajarannya. 

Dan ayat 19 harus diikuti dengan ayat 18. Pengertian kita bahwa Hukum Taurat adalah valid saja tidak cukup. Kita harus mengikuti hukum-hukum yang telah diberikan. Sebagai orang Kristen, seberapa penting Kitab Suci bagi dalam hidup kita? Apakah kita menghidupinya dengan sungguh-sungguh?

Di hadapan Tuhan, orang yang besar bukanlah orang yang tahu Firman Tuhan, bukan orang-orang yang melakukan pelayanan yang luar biasa signifikan, tetapi orang yang besar adalah orang-orang yang mengetahui validitas Hukum Taurat dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang seperti ini, mungkin tidak dikenal dan tidak mendapat pujian dari orang lain. Tetapi, orang yang seperti ini adalah orang yang besar di hadapan Tuhan. Kiranya kita semua menjalankan Hukum Taurat dan mengetahui bahwa penggenapannya ada di dalam Tuhan Yesus.



NB: Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah - Tim Beranda